KELUARGAKU KAYA DI DALAM ALLAH

Renungan

  29 Sep 2019

MINGGU, 29 SEPTEMBER 2019
Tema : KELUARGAKU KAYA DI DALAM ALLAH
BACAAN I : AMOS 6: 1, 4-7.
ANTAR BACAAN : MAZMUR 146.
BACAAN II : 1 TIMOTIUS 6: 6-19.
BACAAN III : LUKAS 16: 19-31.

 

KELUARGAKU KAYA DI DALAM ALLAH
Benarkah keluarga kita kaya di dalam Allah? Mengapa kita bilang begitu, apa
tanda-tandanya? Dapatkah kita juga mengatakan bahwa keluarga di dalam Lukas
16:19-31 itu sebagai orang yang kaya di dalam Allah? Mengapa, apa tanda-tandanya?
Kita membaca kehidupan orang-orang kaya di dalam Amos 8 yang tampak kaya dan
bahagia, merasa tenteram di atas tumpukan harta (ayat 1, 3-6). Tetapi ternyata rasa
tenteram mereka palsu. Ternyata mereka diancam akan dibuang oleh Allah (ayat 7).
Kenapa bisa begitu? Karena rupanya mereka tidak hidup dengan benar dan adil di dalam
masyarakat dengan memakai kekayaan mereka (ayat 12 bagian akhir).
Juga di dalam 1Tim. 6:9-10 kita membaca tentang orang-orang yang bahagia sendiri,
tidak perduli keadaan sekelilingnya. Cintanya kepada uang, bukan kepada Tuhan dan
sesama manusia. Kaya, kaya sendiri. Bahagia, bahagia sendiri. Makan, makan sendiri dan
kenyang sendiri. Nikmat, nikmat sendiri.
Tuhan berpesan supaya orang kristen hidup sebagai “manusia Allah” (ayat 11), yang
hidup kaya di dalam Allah; ada rasa cukup, beribadah, hidup sederhana (ayat 6-8).
Mengusahakan dan mengutamakan persahabatan dengan Allah. Ia juga menyebarkan
kebahagiaan kepada masyarakat sekitar (ayat 18-19). Ia tidak menutup hati, tidak
menutup mata, dan tidak menutup tangan. Dengan cara itu ia disebut kaya di dalam hidup
yang sebenarnya.
Masalah orang kaya di dalam Lukas 16 terletak di sini. Ia menutup hati, menutup mata,
dan menutup tangan. Lazarus yang sangat menderita kemiskinan di depan pintu
rumahnya tidak terlihat oleh mata hatinya dan tidak terjangkau oleh tangannya. Dosa
orang ini bukan karena uang tapi karena cinta uang (1Tim. 6:10). Ia tidak cinta Tuhan dan
Lazarus. Seharusnya ia cinta Tuhan dan cinta sesama manusia. Jadi kalau akhirnya ia
menderita (Luk. 16:23,25), itu bukan karena kekayaannya tapi karena sikapnya. Sikap
yang tertutup rapat di dalam nikmatnya kekayaan.
“Manusia Allah” kaya dengan harta yang kekal, bukan kaya dengan harta yang hanya
diperlukan untuk sementara, di bumi (1Tim. 6:19). Itulah tanda utama dari manusia Allah,
yang kaya di dalam Allah. Adakah tanda itu melekat pada keluarga kita? Itulah yang
menjawab pertanyaan kita pada awal renungan ini. Kiranya keluarga kita memang
demikian, sungguh kaya di dalam Allah. Amin.
DOA SYAFAAT
· Orangtua (hal khusus yang dihadapi ayah dan ibu)
· Anak-anak (hal khusus yang dihadapi anak-anak)
· Orang lain yang tinggal serumah (kakek/nekek, pembantu, saudara sepupu dll)
· Tetangga-tetangga sebagai keluarga sewarga
· Jemaat Cibunut sebagai keluarga seiman
· Negara dan Bangsa Indonesia yang menghadapi keadaan yang sangat dinamis.
NYANYIAN – NKB 141:1,2
Kasihku pada-Mu tambahkanlah!
Ya Kristus Tuhanku, o, dengarlah!
Kumohon tak henti: Tambahkan kasihku

makin besar pada-Mu!
 

Dahulu dunia andalanku,
kini Engkau, Tuhan, harapanku.
Inilah doaku: Tambahkan kasihku,
makin besar kepada-Mu!

 

Pdt. Em. Melanthon Bombong