MELEKAT HANYA KEPADA ALLAH

Renungan

  22 Sep 2019

MINGGU, 22 SEPTEMBER 2019
Tema : MELEKAT HANYA KEPADA ALLAH
BACAAN I : AMOS 8: 4-7.
ANTAR BACAAN : MAZMUR 113.
BACAAN II : 1 TIMOTIUS 2: 1-7.
BACAAN III : LUKAS 16: 1-13

Belakangan ini, Indonesia sedang hangat memperbincangkan topik mengenai RUU
KPK. Ada yang mengatakan, UU KPK benar-benar harus direvisi karena KPK telah
disusupi kepentingan politik tertentu. Ada pula yang mengatakan bahwa RUU KPK hanya
melemahkan KPK yang justru membuat para koruptor semakin terlindungi. Mana yang
benar? Sebagai orang Kristen di negara Indonesia ini, kita hanya melihat apa yang
disajikan media massa. Bisa salah. Bisa benar. Kita tidak tahu pasti dengan sangat jernih
apa yang terjadi. Yang pasti, sebagai jemaat Kristen, kita mengharapkan agar negara,
melalui KPK dapat memberantas bukan hanya para koruptor tetapi juga mentalitas korup
yang telah mengakar dari lapisan masyarakat terkecil sampai yang terluas. Tujuannya
jelas, yaitu menciptakan masyarakat yang jujur. Dengan demikian, masyarakat dapat
hidup sejahtera karena naiknya indeks kepercayaan warganya terhadap pemerintah.
Sampai hari ini, Indonesia terus memerangi mentalitas korup. Sebagai orang Kristen, kita
diingatkan untuk berhati-hati jika berurusan dengan uang (materi). Sangat realistis jika
manusia membutuhkan uang untuk menopang hidupnya. Tetapi perlu kita ingat juga
bahwa kita hidup bukan untuk uang. Uang untuk kita bukan kita untuk uang.

Di dalam Lukas 15:13, Yesus mengajarkan kepada kita untuk lebih melekatkan diri pada
Sang Pemilik daripada milik-Nya. Kita melekatkan diri pada Allah daripada materi-materi.
Yesus mengatakan, “kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”
Di masa kini, kemelekatan bukan hanya soal materi tetapi dalam bentuk lain juga misalnya
gagasan-gagasan atau idealisme-idealisme tertentu. Seseorang yang melekat pada
gagasan tertentu tetapi menutup ruang diskusi, ruang untuk dikonstruksi, ruang untuk
disanggah, ruang untuk dipertanyakan, akan menciptkan sosok serigala bagi sesamanya.
Jika seseorang memegang sebuah gagasan tentu sah-sah saja, selama yang bersangkutan
terbuka terhadap hal-hal baru agar gagasannya tersebut terkonstruksi seirama dengan
Firman Tuhan dan konteks masa kini.
Saudaraku, sekarang ini kita hidup di tengah dunia yang terus berubah dan bisa mencuri
perhatian dan hidup kita dari Tuhan. Tuhan mengingatkan kita agar terus melekat
dengan-Nya. Kiranya Tuhan menyertai saudara setiap hari. Amin

Pdt. Nathaniel Valentino Saleky