BERSUKACITALAH BERSAMA-SAMA DENGAN AKU

Renungan

  15 Sep 2019

MINGGU, 15 SEPTEMBER 2019

Tema : BERSUKACITALAH BERSAMA-SAMA DENGAN AKU

BACAAN I : KELUARAN 32: 7-14.
ANTAR BACAAN : MAZMUR 51: 3-12
BACAAN II : 1 TIMOTIUS 1 : 12-17.
BACAAN III : LUKAS 15: 1-10.

P
ada waktu kita membaca perumpamaan tentang domba yang hilang dan dirham yang
hilang (Luk. 15:1-10), seringkali perhatian kita terfokus pada usaha gembala mencari
domba yang tersesat dan usaha perempuan mencari dirham yang hilang. Hal ini tentu tidak
salah. Tapi sebetulnya ada hal lain yang mau ditekankan dalam perumpamaan -
perumpamaan tersebut. Yaitu: ajakan untuk bersukacita. Setelah gembala menemukan
domba yang tersesat, ia memanggil sahabat dan tetangga-tetangganya untuk bersukacita.
“Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah
kutemukan” (Luk.15:6.Hal yang serupa terdapat dalam Luk.15: 9). Gembala dan
perempuan yang menemukan kembali yang terhilang itu sungguh bersukacita. Mereka
juga mengajak sahabat dan tetangganya untuk bersukacita. Sukacita ini menggambarkan
sukacita sorgawi (Luk. 15:7, 10). Dimana semuanya bersukacita, baik Allah mapun
malaikat - malaikat-Nya. Lalu siapa lagi yang sebenarnya bersukacita? Ya, orang berdosa
yang bertobat.
Dalam perenungan ini, saya mengajak saudara untuk memosisikan diri sebagai yang
tersesat atau terhilang. Karena usaha Allah, kita yang berdosa ini telah ditemukan Allah
melalui iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Sekarang hidup kita ada dalam lingkungan
kasih Allah bersama-sama semua orang beriman. Ada sukacita di sorga karena kita

ditemukan dan kembali kepada Allah. Allah bersukacita, malaikat-malaikat-Nya
bersukacita. Juga kita mestinya bersukacita karena bisa kembali kepada Allah.
Tetapi masalahnya sekarang adalah: apakah kita benar-benar senantiasa mengalami
sukacita karena sudah ditemukan dan kembali kepada Allah? (Jadi ingat 1 Tesalonika
5:16). Ataukah sukacita kita itu timbul dan tenggelam tergantung situasi? Pada saat kita
menghadapi tantangan dan persoalan dalam hidup, atau pada waktu kita menghadapi
kesulitan dan pergumulan dalam pelayanan, apakah tetap ada sukacita dalam hati kita?
Jangan sampai sukacita kita itu tergantung pada situasi dan peristiwa yang menimpa kita.
Bila sukacita kita tergantung situasi/peristiwa, maka sukacita kita akan pasang surut, timbul
dan tenggelam karena situasi bisa terus berubah. Tapi bila sukacita kita bergantung pada
kasih Allah, maka sukacita kita akan lebih langgeng. Karena kasih Allah kepada kita juga
tidak pernah berubah. Yang berdosa saja Allah cari dan kasihi, apalagi kita yang sudah
bersama-sama Allah. Allah pasti selalu menyertai kita dalam setiap pergumulan kita. Dan
kita dimampukan menjalani hidup dan melayanai Tuhan dengan sukacita. Selamat
merasakan kasih Tuhan dan senantiasa bersukacita!

Pdt. Budi Cahyono Sugeng