KELUARGAKU MENJADI SAKSI ALLAH DALAM KESEHARIAN

Renungan

  06 Okt 2019

MINGGU, 06 OKTOBER 2019

Tema : KELUARGAKU MENJADI SAKSI ALLAH DALAM KESEHARIAN

BACAAN I : HABAKUK 1: 1-4: 2: 1-4.
ANTAR BACAAN : MAZMUR 37: 1-9
BACAAN II : 2 TIMOTIUS 1: 1-14.
BACAAN III : LUKAS 17: 5-10.

lMENYANYIKAN :
PKJ 177: 1 AKU TUHAN SEMESTA
Aku Tuhan semesta, Jeritanmu Kudengar.
Kau di dunia yang gelap ‘Ku s’lamatkan.
Akulah Pencipta t’rang; malam jadi benderang.
Siapakah utusanKu membawa t’rang?

Refrein:

Ini aku, utus aku! Kudengar Engkau memanggilku
Utus aku; tuntun aku; ‘Ku prihatin akan umatMu.
lPERTANYAAN:

* Hidup bersama dengan orang lain, sekolah, kampus,di rumah, atau kantor,
hal apa yang paling sulit kita kerjakan ? memaafkan, mengampuni ?

* Mengapa, jelaskan ?

KELUARGAKU MENJADI SAKSI ALLAH DALAM KESEHARIAN

Setelah Yesus mengatakan bahwa akan ada penyesatan (ay 1), murid-murid terkejut
dan ketakutan, mereka belum siap menghadapinya, maka mereka minta Yesus
‘tambahkan iman’ kami. Bagi mereka penyesatan merupakan tantangan yang terberat
dan terbesar. Hal kedua yang tak kalah berat adalah adalah mengampuni tanpa batas;
mengampuni orang yang menjengkelkan, memfitnah, menyakitimu termasuk orang yang
melakukan penyesatan itu.
Mendengar pernyataan Yesus itu, para murid memohon, kalau begitu : ”tambahkanlah
iman kami”. Dengan mengumpamakan iman sebesar biji sesawi,
Yesus mau mengatakan bahwa untuk menghadapi kedua tantangan berat di atas, satu
masalah ekternal yakni para penyesat dan internal, hal mengampuni mereka yang bersalah
padamu. Untuk melakukan semua itu, tidak bergantung pada besar- kecilnya ukuran
imanmu. Melainkan sikap hati seorang hamba, hati tunduk dan taat setiap hari dalam segala
hal, kepada kehendak tuannya. Dalam keluarga, jika ayah-ibu hidupnya menghamba, berpusat
pada Kristus, tunduk, mengabdi kepada Tuhannya, Seperti sikap para murid: “kami hanya
melakukan apa yang harus kami lakukan”. Dengan cara itu kamu dan seisi keluargamu,
sungguh-sungguh menjadi saksi. Perjamuan kudus, menyadarkan bahwa kita sudah
mengalami anugerah pengampunan, maka kita harus meneruskannya, saling mengampuni,
jangan takut menghadapi para penyesat, sebab hatimu sudah putih, dikuasai roh ilahi, kamu
pasti sanggup membedakan dan menyelesaikannya dengan benar.
lDOA SYAFAAT :

· POKOK DOA:

- Ungkapan kesediaan untuk saling memaafkan,
- dan kesediaan untuk memaafkan orang lain.

MENYANYIKAN
PKJ 177 : 2 AKU TUHAN SEMESTA
Aku Tuhan semesta. ‘Ku menanggung sakitmu
dan menangis kar’na kau tak mau dengar.
‘Kan Kurobah hatimu yang keras jadi lembut
Siapa bawa firmanKu? UtusanKu?
Refrein:

Ini aku, utus aku! Kudengar Engkau memanggilku.
Utus aku; tuntun aku; ‘Ku prihatin akan umatMu.

Pdt. Welmintje Naomi