Welcome GKI Taman Cibunut

Jl. Van Deventer No.11, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40112

About Us....

Renungan Minggu Ini

Berkolaborasi Dalam Spiritualitas Convivial

1 Korintus 1:10-18

Pdt. Em. Budi Cahyono Sugeng

Menurut Anda, berasal dari manakah tantangan berat yang membuat gerak gereja sering terseok-seok; membuat dia sulit tumbuh kembang dalam persekutuan, pelayanan, dan kesaksian sesuai pesan Tuhan kepadanya? Apakah berasal dari luar atau dari dalam dirinya? Memang dalam sejarah ada komunitas Kristen (gereja) yang mengalami hambatan dari luar berupa ancaman, penghinaan, persekusi, perusakan fasilitas, bahkan pengusiran keluar dari suatu lingkungan. Tetapi yang lebih sering terjadi justru hambatan itu muncul dari dalam; dari anggota gereja sendiri! Entah karena konflik para pejabat/pemimpinnya, entah pementingan diri kelompok-kelompok etnis dan pemahaman dalam satu gereja, entah antar jemaat dalam satu Klasis atau Sinode. Ada pendeta senior dan pendeta yunior dari satu gereja mengalami konflik sehingga saling menggugat di Pengadilan Negeri … dan anggota gerejanya terbagi dua mengekor di belakang kedua pendeta itu. Mereka adu kebenaran di depan hakim PN. Padahal anggotanya sangat banyak. Gereja yang sangat besar. Mirip itulah situasi yang disergah Rasul Paulus dalam 1Kor. 1:11-12. Perpecahan gereja dalam kepingan-kepingan seperti piring pecah: ada kepingan “aku dari golongan Paulus”, “aku dari golongan Apolos”, “aku dari golongan Kefas”, “aku dari golongan Kristus.” Piring pecah menjadi empat kepingan kecil, sudut-sudut dan pinggirnya tajam saling melukai. Golongan-golongan dalam jemaat Korintus tidak akur dan senang saling menghakimi: # Grup Paulus menjunjung tinggi kebebasan dalam Kristus, hidup merdeka … sehingga mengganggu paham dan menusuk perasaan kelompok Kefas yang masih sulit melepaskan diri dari pemberlakuan Taurat Yahudi. Demikian juga sebaliknya, golongan Kefas menilai buruk paham dan sikap kelompok Paulus sebagai orang tak punya batas-batas etika dan etiket. Hidupnya “semau gue.” Hidup mereka kebablasan! # Kelompok Apolos rupanya kagum pada Apolos yang fasih berbicara dan kuat berfilsafat sehingga merendahkan golongan lain yang menekankan praksis kekristenan. Dalam Kis. 18:26 kita membaca, Jalan Allah yang dipahami Apolos diluruskan oleh pasutri Akwila dan Priskila (TB1: “dengan teliti”, TB2: “dengan lebih tepat”). Kelompok-kelompok tidak akur dan saling mengukur sambil nyinyir. Mereka membuat Tubuh Kristus ( = gereja) terkoyak. Padahal Tubuh itu satu, tidak terbagi-bagi (1Kor. 1:13). Tubuh itulah yang disalibkan demi penyelamatan mereka semua. Salib-Nya menjadi kekuatan Allah untuk penyelamatan itu (ayat 18). Tapi mereka tidak mengindahkan dan memuliakan tindakan Allah melalui Kristus itu. Mereka lebih berpegang erat pada komandan masing-masing sambil merendahkan golongan yang berbeda. Tidak ada persekutuan yang disebut convivial (Latin, dari kata con-vivier = hidup bersama). “Spiritualitas Convivial” ini secara khusus menunjuk suasana kebersamaan di meja makan: saling mengasihi, berbagi, bercakap-cakap, bahagia, bersahabatan, sehati sepikir, dan bersukacita. Jemaat Korintus sungguh jauh dari sana. Paulus menegur demi nama Tuhan Yesus: jangan ada perpecahan. Sehati sepikirlah, seia sekatalah. Bersatulah erat (ayat 10). Surat-surat kepada jemaat Korintus adalah yang paling sarat kritik keras dari Rasul Paulus. GKI SW Jawa Tengah dalam Program 2024-2027 mengangkat tema Membangun Komunitas AKAR (Adaptif, Kolaborasi, Antar Generasi, Relevan).” Dalam PPKSW hari ini suasana persekutuan “di meja makan” itu diberi perhatian khusus untuk mendorong jemaat-jemaat menghayati persahabatan dan persaudaraan dalam Kristus. Semua warga gereja yang beragam etnik, pikiran, dan sikap, bahkan berbeda generasi, dipanggil bersekutu dan menjauhkan diri dari perpecahan yang mencabik Tubuh Kristus. Kristus telah mengangkat kita semua menjadi sahabat-Nya, bukan lagi sebagai hamba-hamba (Yoh. 15:14-15). Di atas pondasi itulah kita semua menjadi sahabat-Nya dalam semangat convivial (hidup bersama). Jauh dari semangat mengkultuskan komandan masing-masing selaku andalan dan pujaan hati melebihi Kristus. Amin

Para Pengerja - Jadwal Ibadah

Para Pengerja

  • Pdt. Nathaniel Valentino Saleky

Kebaktian Umum

  • Kebaktian Umum Pkl. 07.00
  • Kebaktian Umum Pkl. 09.30
  • Kebaktian Umum Pkl. 17.00

Kebaktian Anak

  • Kebaktian Komisi Anak kelas sekolah Minggu pkl. 07.00
  • Kebaktian Komisi Anak kelas sekolah Minggu pkl. 09.30
  • Kebaktian Komisi Anak kelas Tunas Remaja pkl. 09.30

Kebaktian Remaja

  • Kebaktian Gabungan Remaja-Pemuda Pkl. 09.30

Kebaktian Pemuda

  • Kebaktian Gabungan Remaja-Pemuda Pkl. 09.30

Kebaktian Bajem Rancaekek

  • Kebaktian Umum Pkl. 09.30 (Mg 2 & Mg 4)

Tentang Kami

Tentang kami

Sejarah GKI Taman Cibunut

Sejumlah orang Belanda beraliran Gereformeerde bermukim di Bandung dan membentuk jemaat dewasa di Naripanweg 11 pada tanggal 1 Februari 1916 oleh jemaat induk Christelijke Gereformeerde Kerk te Batavia (Jemaat Kwitang Belanda). Itulah awal hadirnya De Gereformeerde Kerk van Bandoeng, dengan pendeta konsulen Pdt. H. A. van Andel dari Solo sampai Pdt. Dr. J. H. Bavinck dipanggil menjadi pendetanya. Beliaulah yang pada tanggal 18 Juli 1921 meletakkan batu pertama pembangunan gedung gereja di van Deventerweg 15 (kini no. 11) dan meresmikannya pada tanggal 23 Desember 1921. Beliau melukiskan jemaat ini sebagai jemaat yang dikelilingi Tuhan sebagaimana gunung-gunung mengelilingi kota Yerusalem (Mazmur 125 : 2). Gambaran ayat ini tercantum pada cap gereja yang digunakan hingga tahun 1987.

Para pendeta berkebangsaan Belanda silih berganti menggembalakan jemaat, yang konon pernah berjumlah sekitar 900 orang ini. .....Lebih Detail....!

New Event

20-07-2024

No Event

Enliven! KRKP: Commitees

21-07-2024

No Event

Retreat KR-KP: Enliven!

16-04-2024

No Event

Malam Keakraban Komisi Pemuda

06-10-2024

No Event

Katekisasi Sidi