Welcome GKI Taman Cibunut
Jl. Van Deventer No.11, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40112
About Us....Jl. Van Deventer No.11, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40112
About Us....Minggu lalu kita merayakan Minggu Trinitas yang memberitakan tentang Allah persekutuan dalam Bapa, Anak dan Roh Kudus. Dalam relasi persekutuan yang begtu intim sekaligus memberi ruang pada manusia untuk berpartisipasi. untuk itu Dia memanggil, mendorong kita terus melanjutkan karya kebaikan bukan karena mnyukainya melainkan karena Allah menghendaki begitu. Allah memerintahkan Abram untuk “pergi” meninggalkan negeri, sanak saudara, dan rumah BapaNya. Padahal pada waktu dulu, semua itu merupakan identitas utama bagi seseorang. Kesediaan Abram menyambut perintah Allah, itu menuntut sebuah keputusan iman yang serius bagi Abram dan keluarga. Selain Abram, Allah memanggil Matius, seorang pria yang bekerja di kantor pemungut cukai, menjadi muridNya. Bukan hanya itu Yesus duduk makan, akrab membaur dengar orang-orang berdosa. Beberapa orang protes dengan sikapNya, tapi dengan tegas Yesus menjawab: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. “Yang dikehendaki Allah bukanlah persembahan melainkan belas kasihan, karena Yesus datang bukan untuk memanggil orang benar melainkan orang berdosa (Mat 9:12). Abram, Matius dibenarkan karena iman yang merupakan kasih karunia (Roma 4:3). Konstruksi keyakinan yang seperti itu dipakai Paulus sebagai model pembenaran bagi semua orang yang percaya kepada Yesus . Yesus punya cinta kasih yang mendalam sekaligus menciptakan ruang agar orang terlibat dalam karya keselamatan. Karena itu Yesus tidak pernah menunda memberikan pertolongan pada setiap orang yang membutuhkanNya. Injil Matius mengisahkan ada dua orang yang sama-sama terbentur pada kenyataan yang tidak bisa diubah sama sekali, sekeras apapun mereka berusaha. Mereka sama-sama putus asa. Justru Injil Matius ingin memperlihatkan dua orang yang putus asa ini percaya kepada Yesus, bahkan ketika Yesus belum atau tidak mengatakan apa-apa. Yang satu adalah Pemuka agama. Dalam kesedihannya karena anaknya meninggal, dia cuma sujud memohon, lalu dia berjalan pergi bersama Yesus. Yang satu lagi seorang perempuan yang 12 tahun pendarahan (ay 20). Katanya dalam hati:’asal kujamah ujung jubahNya’. Tanpa menunggu Yesus bicara apa-apa, perempuan itu sentuh ujung jubahNya. Setelah itu baru Yesus berbicara kepadanya. Artinya kedua orang ini percaya kepada Yesus secara total. Kata Yesus, ”Teguhkanlah hatimu, hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Dari kisah ini kita lihat bahwa pemanggilan dan pemilihan Allah sebenarnya bukanlah pemilihan yang membuat Allah merangkul yang satu dan mengabaikan yang lain. Pemilihan Allah merupakan intensifikasi karya pembebasan dan keselamatan serta memberi ruang bagi sebanyak mungkin orang untuk terlibat di dalamnya. Karena itu Allah memberikan modelnya, Dia memanggil dan mengutus dan Dia menepati janjiNya, menyertai dan memberkati utusanNya. Ini menunjukkan pentingnya iman dengan semangat partisipasi. Allah tidak menghendaki kita menjadi umat dengan mental penikmat, mental penonton, atau mental menunggu. Dia ingin kita menjawab panggilanNya dengan menjadi pribadi yang ucapannya dilakukan. Bukankah itu yang kita butuhkan dalam hidup ini sekarang ? Kita butuh ucapan yang berbobot, berkomitmen, dan terbukti memang dilakukan. Kita membutuhkan janji-janji yang tidak kosong, tapi selalu dipenuhi. kita membutuhkan perkataan yang bisa dipegang dan dipercayai. Amin.
Sejumlah orang Belanda beraliran Gereformeerde bermukim di Bandung dan membentuk jemaat dewasa di Naripanweg 11 pada tanggal 1 Februari 1916 oleh jemaat induk Christelijke Gereformeerde Kerk te Batavia (Jemaat Kwitang Belanda). Itulah awal hadirnya De Gereformeerde Kerk van Bandoeng, dengan pendeta konsulen Pdt. H. A. van Andel dari Solo sampai Pdt. Dr. J. H. Bavinck dipanggil menjadi pendetanya. Beliaulah yang pada tanggal 18 Juli 1921 meletakkan batu pertama pembangunan gedung gereja di van Deventerweg 15 (kini no. 11) dan meresmikannya pada tanggal 23 Desember 1921. Beliau melukiskan jemaat ini sebagai jemaat yang dikelilingi Tuhan sebagaimana gunung-gunung mengelilingi kota Yerusalem (Mazmur 125 : 2). Gambaran ayat ini tercantum pada cap gereja yang digunakan hingga tahun 1987.
Para pendeta berkebangsaan Belanda silih berganti menggembalakan jemaat, yang konon pernah berjumlah sekitar 900 orang ini. .....Lebih Detail....!